KISTA ENDOMETRIOSIS? BACA CERITANYA!

Hai! Kali ini saya akan menceritakan kisah endometriosis selama bertahun tahun lamanya (lebay), let’s reading, guys.

Saya pertama kali menstruasi pada kelas 1 SMP dan pada saat itu saya merasa sakit luar biasa ditambah dengan darah yang banyak sekali, menurut tanteku ini dikarenakan hormon yang belum begitu stabil. Setiap nyeri hebat pada saat datang bulan, saya selalu menganggap bahwa hal itu terjadi karena saya terlalu kelelahan di sekolah, saya mengikuti ekstrakurikuler ‘cheerleaders’ yang tentu membutuhkan tenaga yang cukup banyak. Sehingga, setiap pulang sekolah saya selalu meminta kepada mama saya untuk mengelus perut saya supaya rasa nyeri itu agak mereda. Bahkan setiap malam saat akan tidurpun saya selalu mengelus perut saya sendiri hingga saya tertidur. Sehingga kadang mama membawa saya ke Dokter Tata (Umum) yang prakteknya berada di sekitar Lanud Sulaiman. Namun, menurut dokter hal itu biasa terjadi.

Masa SMP pun berlalu dengan nyeri haid yang stabil seperti itu. Hingga pada saat saya memasuki masa SMA, perut kiri saya selalu sakit luar biasa ketika haid. Sering saya tertidur dikelas karena lelah menahan nyeri pada perut ketika haid, sehingga saya selalu mengakalinya dengan meminum minuman pereda nyeri haid, ya, kiranti. Nyeri haid sayapun mereda seketika. Suatu hari saya sakit dan diantar mama memeriksakan ke Dokter Sri Sugiharti (Umum) yang prakteknya berada di Jalan Sayati. Dokter Sri mendiagnosa bahwa saya terkena penyakit maag, sehingga setiap saya merasakan nyeri pada perut kiri saya, saya selalu meminum obat maag karena katanya saya telat makan jadi perut kiri saya selalu sakit ketika haid.

Namun, saat saya menginjak kelas 3 SMA, perut saya nyeri hebat sekali lebih dari biasanya, sayapun dibawa ke Dokter Sri Sugiharti, namun saat itu Dokter Sri sedang berhalangan hadir, sehingga digantikan oleh anaknya (pria) yang juga berprofesi sebagai dokter, saya gak tau namanya, sebut saja namanya Dokter X. Setelah diperiksa, Dokter X itu menganjurkan saya untuk melakukan USG dan tetap memberikan saya obat yang biasa Dokter Sri beri + obat ibuprofen dosis rendah (200 mg), setelah dirumah, saya dan mama mengabaikan anjuran Dokter X tersebut, karena secara fisik, saya baik-baik saja (tidak ada benjolan) sehingga saya selalu bilang “gak perlu USG, nanti lain kali aja Mam”.

Pada awal masa kuliah (tahun 2013) saya sering kelelahan karena kegiatan perkuliahan yang cukup padat sungguh menguras otak, sehingga pola makan dan pola tidurpun menjadi korban, maklum fakuktas teknik memang dikenal cukup keras dan ketat. Nyeri haidpun semakin tidak biasa dan selain meminum kiranti, saya mengakali nyeri haid tersebut dengan meminum ibuprofen dosis 400 mg bahkan 600 mg yang dosisnya saya naikan sendiri, karena dosis rendah tidak cukup menghilangkan nyeri haid saya.

Pada akhir tahun 2015, saya baru merasakan bahwa terdapat benjolan pada perut kiri saya dan menurutku itu cukup besar, tentu shock luar biasa, setelah beberapa hari menyadari adanya benjolan itu, saya demam tinggi ditambah dengan panasnya perut yang menjalar hingga ke punggung. Beberapa hari setelah mereda, saya masuk kuliah (memaksakan diri) dan sepulang kuliah saya berniat untuk mendatangi dokter kandungan dan tidak ditemani oleh mama karena saya takut jika memang ada apa-apa, mama saya akan panik (sebelumnya saya sudah googling dan kesimpulan saya benjolan ini adalah mioma/kista). Sayapun memilih dokter kandungan di Taman Kopo Indah, yakni Dokter Dini Hidayat (dari hasil googling, katanya dokter ini nyaman buat konsul) yang berada pada lantai 2 sebuah apotek, saat saya naik ke lantai 2 semua orang melihat saya dengan pandangan seolah-olah saya hamil diluar nikah, semuanya memberikan pandangan sinis. Akhirnya saat ditanya keluhan oleh suster, saya menjawabnya dengan suara yang agak keras supaya semua mendengar bahwa saya bukan hamil diluar nikah, memalukan memang namun juga membuat saya puas agar orang lain tidak berprasangka buruk. Lalu saya diharuskan meminum air mineral hingga perut saya kembung agar mempermudah perut saya untuk di USG. Setelah menunggu sangat lama untuk dipanggil, akhirnya saya masuk ke ruangan khusus pemeriksaan, dokternya ramah dan memang nyaman untuk diajak mengobrol, pertama kali USG rasanya geli sekali. Dokter Dini bilang di ovarium saya terdapat kista berukuran 8 x 11 cm, Dokter Dini kaget karena katanya “sudah sebesar itu tapi gak kerasa”. Sebenernya kerasa sih, cuman ya sibuk juga sama kuliah jadi gak kasih perhatian lebih ke benjolannya. Untuk lebih jelasnya lihat hasil USG dibawah ini ya…

Note: Sejak pertama kali saya haid hingga saat ini (2016), haid saya selalu stabil nyeri yang luar biasa dan lama maksimal haid ya 3 minggu, minimal hanya 2 minggu, haid tidak teratur, mual, kembung, nyeri payudara, panggul, serta perut panas hingga ke punggung dan tentunya banyak sekali darah yang keluar. Jadi, jika kamu memiliki keluhan tidak normal seperti itu, maka periksakanlah ke dokter kandungan, jangan malu, ini semua demi masa depanmu.

Sebelumnya saya sudah sempat dianjurkan untuk berhenti kuliah oleh dosen wali saya dan keluarga, supaya saya dapat fokus terhadap pengobatan saya, namun saya tidak mau karena alasan sedang praktek studio 2 analisis dan akan segera praktek studio 3 rencana. Kemudian Dokter Dini menganjurkanku untuk melakukan cek lab., dokter bilang harus diketahui secara dini mengenai jenis tumor tersebut, apakah ganas atau jinak, karena jika itu adalah tumor ganas, tumor tersebut juga rentan melekat/tumbuh pada jaringan payudara, paru-paru, otak dan lainnya. Mengerikan. Dokter Dini bilang bahwa semua ini bisa terjadi karena POLA HIDUP YANG TIDAK SEHAT, di kampus saya sering sekali minum teh-teh dalam botol (teh pucuk haram), makanan tidak sehat (seblak, dan makanan-makanan yang dibeli diluar rumah yang entah proses pembuatannya higienis atau tidak), penyebab utamanya adalah terlalu padatnya rutinitas sehingga sangat sibuk dan kelelahan pada tubuh yang tidak diimbangi dengan asupan makanan dan minuman yang sehat/baik bagi tubuh. Namun karena biaya cek lab. yang cukup mahal, saya tidak meng’iya’kan anjuran Dokter Dini. Setelah saya membicarakan dengan keluarga saya, saya langsung membuat surat rujukan untuk ke rumah sakit karena Alhamdulillah Abah saya merupakan pensiunan PNS PU sehingga memiliki ASKES Kelas 1, setelah surat rujukan selesai saya tidak datang ke rumah sakit karena kesibukan saya di kampus sebagai mahasiswa teknik dengan tugas yang begitu banyak dan perkuliahan yang begitu padat. Dengan kondisi saya yang sangat sibuk, kakak saya membelikan saya obat 2 botol yang berisikan kapsul, namanya Manjakani Kanza. Saya meminum secara rutin obat tersebut, namun tidak ada efek yang signifikan. Nih penampakan botolnya:

Setelah membaca buku dan artikel, mama dan keluarga menganjurkan saya untuk meminum air rebusan daun sirsak, yang selalu saya minum setiap hari setiap jam bahkan saya membekalnya ke kampus menggunakan botol minum yang cukup besar dan memang efeknya nyeri haid saya jadi berkurang. Akhirnya pada bulan Juli tahun 2016 setelah saya mengabaikan saran dokter pada bulan Desember tahun 2015, saya demam tinggi kembali dengan perut yang panas luar biasa dan benjolan yang semakin besar. Dengan kondisi saya yang seperti itu, Bapak saya yang selalu saya panggil dengan sebutan “Abah” memaksa saya untuk pergi konsultasi ke dokter. Akhirnya saya diantar mama dan kakak laki-laki saya memeriksakan diri ke dokter kandungan Kimia Farma di seberang Miko Mall, Dokter Roni Rowawi namanya. Setelah saya di USG untuk kali kedua, dokter bilang jika kista saya berukuran 12,7 x 10,5 cm dan sudah seperti bola sepak bahkan janin bayi, dan dokter bilang beliau tidak bisa melihat apakah kista itu menempel pada ovarium kiri saja atau keduanya, karena kista besar itu sudah menutupi kedua ovarium saya sehingga tidak bisa dilihat dengan jelas walau menggunakan USG. Dokter menyarankan saya untuk segera melakukan operasi karena beresiko pecah kapan saja dan akan membahayakan diri saya dan tentunya tidak ada obat yang ia berikan untuk kondisi kistaku saat ini, beliau juga menyarankan supaya saya tidak ‘loncat-loncat’ dan menggunakan motor agar kista tidak terguncang karena rentan pecah. Lalu saya menjelaskan mengenai hasil USG yang pertama, saat mendengar penjelasan saya mengenai hasil USG pada bulan Desember tahun 2015 beliau berkata salahsatu ovarium saya harus dipotong. Mendengar kalimat itu, hati saya “deg…deg… Ya Allah”. Nih hasil USG-nya:

 

 

Setelah dirumah, mama dan kakak saya menjelaskan kepada Abah saya bahwa tidak ada obat, jalan satu satunya adalah operasi. Berselang beberapa hari dengan kondisi saya yang masih “sakit” saya diantar kakak saya ke puskesmas untuk membuat rujukan ke rumah sakit supaya biaya operasi dapat ditanggung ASKES. Setelah surat rujukan selesai, beberapa hari kemudian saya ke Rumah Sakit Al-Ikhsan untuk melakukan tindakan lebih lanjut terhadap kista saya. Saya ditangani dokter kandungan, Dokter Oky Haribudiman. Saya diperiksa, USG, dan hasilnya saya memang harus dioperasi. Tanpa basa basi, saya dan mama langsung menentukan tanggal operasi yang bisa segera dilaksanakan tanpa harus WAITING LIST, karena waktu sudah mepet menuju cuti bersama Idul Fitri (untuk dokter) dan juga Ujian Akhir Semester (UAS) dan + sidang Studio 3 Rencana (untuk saya).

Ps: Hasil USG dari RS tidak diberikan kepada pasien, karena akan dijadikan sebagai pedoman pada saat merencanakan teknik operasi dan lainnya.

Setelah beberapa hari kemudian, saya ke rumah sakit ditemani Abah saya untuk melakukan cek ini itu di beberapa lab. dan poli penyakit dalam yang berada pada lingkungan Rumah Sakit Al-Ikhsan untuk mengetahui kesiapan dan kebutuhan apa saja yang akan saya perlukan untuk melakukan operasi. Setelah semuanya selesai, saya paksa Abah untuk pulang saja, agar beliau bisa beristirahat dirumah. Lalu, saya mendaftar di bagian rawat inap, ASKES saya merupakan ASKES Kelas 1 jadi saya langsung mendapatkan ‘bed’ dengan cepat, namun perawat kebingungan karena saya datang sendirian, sedangkan ada berkas yang harus diurus, dan akhirnya saya mengurusnya sendiri karena saya pikir tidak masalah, toh saya masih mampu untuk berjalan.

Setelah itu saya diantar perawat ke lantai 3 gedung kebidanan yang lebih dominan diisi oleh ibu yang baru melahirkan. Maka katanya jangan heran jika nanti saya dianggap sebagai wanita yang baru melahirkan oleh pasien lain di gedung tersebut. Setelah memasuki ruangan yang ditujukan perawat, ruangan kelas 1 lebih bagus daripada ruangan kelas 2 & 3. Di ruanganku terdapat AC, TV, Kulkas, water heater, galon, dan 2 bed. Pada malam harinya, orangtua, tante dan kakakku datang ke RS membawa kebutuhanku selama dirawat, dan tentunya membawakan daster favoritku. Tepat jam 11 malam, perawat mengabari bahwa saya harus ‘puasa’ dan saya juga membutuhkan donor darah 1 labu karena tekanan darahku rendah daaan stock darah O- kosong sehingga kakakku yang pertama yang saya sayangi (dan pasti baca blog ini) harus rela pergi ke PMI yang lokasinya jauh sekali dari RS dan harus kembali lagi ke RS. Sungguh merepotkan, maafkan kakak. Paginya pun saya mandi terlebih dahulu supaya segar, lalu saya dipasangi infusan, daaan tanpa kuketahui, perawat bilang bahwa rambut miss v saya harus dipapas habis (kenapa gak bilang pas sebelum pasang infusan kalo harus wax sampe botak? biar wax sendiri aja ya kan). Jadi dengan sangat terpaksa dibantu oleh perawat menggunakan alat wax tanpa pelumas, yang berakibat saya rewel, sedikit berteriak dan ogah ogahan, karena rasanya memang tidak enak diwax tanpa pelumas seperti itu, sungguh sebal. Setelah itu perawat datang membawa KATETER, for the first time. Sesaat setelah dipasangkan, rasanya luar biasa sakit, ingin menangis, marah, tidak enak. Akhirnya saya berusaha membiasakan diri karena sebentar lagi saya harus masuk ke ruang operasi.

Kemudian… Deg… Deg… Saya sudah duduk di kursi roda, dan siap untuk menuju ruangan operasi. Sesampainya di gedung operasi, saya berganti pakaian dengan pakaian khusus operasi berwarna hijau tua. Lalu saya dibawa ke ruangan operasi. Saya melihat ada Dokter Oky yang sedang sibuk dengan pulpen dan kertasnya menulis sesuatu, saya juga disapa dan diajak mengobrol ringan oleh dokter bedah dan asisten dokter bedah. Lalu disuntikanlah sesuatu kedalam infusan saya, ternyata obat bius, bius total. Entah berapa jam kemudian, saya merasa bangun di ruang operasi, dan menangis kesakitan, setelah itu saya lupa. Setelah itu saya tersadar dan berada di ruangan yang banyak sekali suara orang-orang yang sedang berteriak kesakitan, ini pasti ruang pemulihan pikirku. Saya berusaha membuka mataku, namun masih agak sulit. Mungkin setelah melihatku bangun dan terlihat stabil, perawat memindahkanku ke ranjang dorong. Saat dipindahkan rasanya sakit luar biasa dibagian perut. Saat ranjang didorong keluar dan melihat keluargaku dengan wajah kecemasan, saya memaksakan diri untuk tersenyum supaya mereka tidak khawatir, terutama mama yang pasti sangat khawatir.

Sesampainya di ruanganku, saya dipindahkan kembali ke ranjangku. Rasanya sakit sekali. Kemudian saya berusaha untuk berbicara bahwa semua baik baik saja, namun suaraku sangat serak, dan tanteku menyarankanku untuk jangan berbicara dulu. Saya hanya tersenyum ketika keluarga besarku memandangku dengan pandangan iba & kasihan. Hari pertama pasca operasi, pernafasanku masih dibantu dengan oksigen, saya belum boleh makan apapun jika belum buang angin (kentut) tapi hanya boleh meminum satu sendok air saja setiap jam. Banyak sekali keluarga besar yang menjenguk, saya melarang semua teman terdekat untuk menjenguk karena malu rambut panjangku kusut sekali tak karuan walau sudah di ikat. Hari kedua, alat bantu pernafasan sudah dilepas, dan dianjurkan untuk mencoba duduk. Hari ketiga, dianjurkan untuk melancarkan jalan dan dikunjungi Dokter Oky beserta anak buahnya (mahasiswa coass), dokter bertanya, “Kapan mau nikah dek?”, saya jawab 5 tahun lagi, saya belum paham apa maksud pertanyaannya, beliau hanya tersenyum saja. Selama 3 hari, sudah 4 ibu melahirkan di ruanganku yang menganggap bahwa saya adalah pasien yang baru melakukan operasi caesar. Akhirnya saya pulang dengan obat yang banyak untuk memulihkan kondisi saya, berjalanpun masih sedikit membungkuk karena sakit, apalagi ketika mobil melewati jalan berlubang dan polisi tidur, sakitnya tiada dua.

Ini adalah resume pasien keluarku: (Dari gambar ini kita bisa mengetahui teknik operasi dan lainnya yang dilakukan oleh dokter terhadap saya, tapi yang pasti ini adalah operasi laparotomy)

Hasilnya terdapat sayatan panjang diperutku kira kira 20 cm yang dijahit secara rapih, yang dikeluarkan dari perutkupun katanya sampai 1 plastik hitam besar dan kistanya berwarna merah-hitam, ovarium kiriku akhirnya dipotong dan ovarium kananku dibersihkan, karena katanya kista sudah melekat di ovarium kananku juga namun masih bisa dibersihkan. Alhamdulillah, karena saya masih berkemungkinan untuk memiliki anak. Setelah itu tumorkupun di cek di lab. dan hasilnya dapat diambil seminggu kemudian. Setelah operasi dan pulang. 3 hari kemudian saya kembali lagi ke RS untuk melakukan pencabutan benang jahitan, setelah kering, saya baru diperbolekan untuk mandi tanpa menggunakan perban anti air, dokter juga bilang jika saya ingin menikah dan hamil pada waktu 2 tahun harus dengan operasi caesar. Setelah 1 minggu saya mengambil hasil PA dan tidak mengkonsultasikan kembali ke dokter karena saya pikir itu tidak begitu penting jika hasilnya adalah tidak ganas. Lihat hasilnya dibawah ini:

Pada hari pertama UAS, saya terpaksa izin dengan surat dokter, karena dokter merekomendasikan saya untuk istirahat dirumah. Pada hari kedua UAS saya memaksakan untuk mengikutinya, awalnya saya memaksakan juga untuk naik tangga dengan perut yang masih agak sakit sehingga jalanku pun sangat lambat dan sering setelah pulang ke rumah terjadi pendarahan sedikit, itu karena terlalu banyak bergerak. Saat di kampus, saya senang sekali memberi tahu teman-teman wanita saya mengenai apa itu kista endometriosis, karena penyakit ini sangat berbahaya jika tidak ditindak dengan baik, dan kini banyak sekali kasus kista yang menjerat perempuan muda. Pada saat saya meminta ujian susulan kepada dosen yang bersangkutan (Dr. Saraswati, Ir., M.T), beliau bertanya (5W + 1H) mengenai penyakit dan operasi saya, beliau baik sekali, memberikan rekomendasi obat herbal yang sebelumnya ia pernah berikan kepada anak perempuannya yang juga pernah mengalami penyakit dan operasi yang sama seperti saya.

Pada bulan November 2016, saya memberanikan diri untuk melakukan cek ke Dokter Dini karena terdapat beberapa gejala seperti nyeri haid yang hebat (rasanya sama seperti sebelum operasi) dan haid yang tidak kunjung selesai (setelah 2 minggu haid, 2 hari kemudian saya haid lagi). Setelah diperiksa, ovarium saya memang bersih, namun setelah melihat hasil PA saya adalah kista endometriosis, dokter menganjurkan saya untuk melakukan suntik endrolin/tapros yang harganya 1,5 – 2 juta sekali suntik untuk memperlambat tumbuhnya kembali kista di dalam ovarium saya, karena kista endometriosis merupakan penyakit ajaib, dimana jika saya haid, terdapat darah yang tidak bisa keluar dan akan tertimbun didalam dan naik menjadi jaringan kista, sehingga dokter takut jika yang saya rasakan merupakan gejala awal akan timbulnya kista baru. Hasil USG pada November 2016:

 


Dokter dan keluarga menganjurkan saya untuk segera menikah dan segera melakukan program kehamilan di usia saya yang masih 20 tahun, karena jika terlalu lama akan beresiko, banyak kasus yang setelah 2 tahun melakukan operasi, kista tumbuh kembali, sehingga dokter takut kasus tersebut akan terjadi pada ovarium kanan saya atau yang lainnya. Keluarga saya bahkan sempat bercanda untuk mentaarufkan saya dengan dua pria berumur 30 tahun yang sudah mapan. Bahkan saya diperbolehkan untuk menikah mendahului kakak ke-4 jika memang saya ingin. Lucu memang. Tapi sekarang saya hanya ingin menyelesaikan kuliah S1 saya, lalu bekerja dan tidak begitu memikirkan pernikahan.

Pada Desember, 2016, saya merasakan gatal pada bibir vagina saya dan hampir 1 bulan gatalnya ditambah keputihan yang agak tidak normal dengan warna yang kadang abu, coklat, putih susu dan berbau, saat saya lihat memang tidak ada apapun, kondisi secara kasat mata pun normal, namun saya direkomendasikan kakak saya untuk berendam di air hangat yang di campur dengan 1 tutup air detol dan meraba bibir vagina saya, karena di rumah sakit tempat kakak ipar saya bekerja, terdapat pasien yang didiagnosa memiliki kista pada bibir vagina (bukan kista endometriosis, tapi saya lupa namanya) dan menurut penjelasan kakak ipar saya bahwa pasien itu tidak merasakan adanya rasa sakit pada benjolannya. Saat saya berendam di air ‘detol’ hangat, saya meraba bibir vagina saya dan bibir vagina kanan saya memang agak bengkak dan tidak sakit, saya hanya menarik nafas panjang dan berpikir ‘Ya Allah, cobaan apalagi ini?’. Setelah saya memberi tahu kakak saya mengenai hal ini, kakak saya hanya menyuruh saya untuk sesegera mungkin melakukan suntik tapros, karena kakak saya takut jika saya akan terkena komplikasi kista. Disana kena, disini kena dengan jenis kista yang berbeda. Saya hanya berpikir dan berdoa, bahwa ini bukan apa-apa dan semua akan baik-baik saja, InsyaAllah, Aamiin.

Note:
In the end, saat saya datang bulan dan nyeri pasca operasi, saya suka meminum air rebusan daun sirsak, namun jika sedang berkegiatan diluar rumah dan lupa membawa air ajaib itu, saya selalu memakan obat asam mefenamat atau ponstan dosis 500 mg. Karena menurut Dokter, obat ibuprofen terlalu berbahaya dan merupakan obat keras, sehingga dari tahun ke tahun saat saya nyeri haid saya tidak merasakan bahwa saya memiliki kelainan (kista) pada ovarium saya. Bahkan jika ukuran kista sudah sangat besar Dokter tidak akan menganjurkanmu untuk meminum obat pereda nyeri, dikarenakan Dokter takut jika kista tersebut pecah namun tidak diketahui, karena rasa nyeri tersebut mungkin saja merupakan ciri-ciri pecahnya kista. Selain itu, saya di anjurkan untuk makan jengkol rebus oleh Abah, karena jengkol adalah obat mujarab anti kanker + rasanya juga enak.

Ingat! Tidak ada obat untuk penyakit kista endometriosis, karena jika setelah operasi dan pola hidupmu tidak sehat, maka jaringan kista itu akan tumbuh kembali dengan cepat, namun semua pertumbuhan itu dapat diperlambat dengan suntik tapros dan pola hidup yang sehat. Semangat❤

Saya berjanji akan membantu orang lain dengan berbagi informasi yang saya miliki agar banyak wanita yang aware dengan tumor (kista).

Nantikan kelanjutan kisahku mengenai kista…
Mengenai jenis dan ciri kista serta ciri-ciri kista pecah dapat anda cari di google. Rajin-rajinlah membaca!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *